Skip to content

Banggakah Anda Punya Marga? Jika Bangga, Apa Salahnya Diabadikan

Masyarakat yang berasal dari Sumatera Utara terdapat beberapa kelompok suku yang mempunyai marga/nama keluarga. Masyarakat yang dimaksud itu adalah Mandailing, Angkola, Toba, Simalungun, Pakpak, Karo, dan Nias. Masyarakat dari suku-suku ini umumnya masih sangat bangga memiliki marga. Biasanya, orang-orang dari masyarakat tersebut selalu menyertakan nama marganya di belakang namanya untuk keperluan administrasi yang bersifat resmi utamanya. Kemungkinan besar tindakan itu dilakukan sebagai salah satu wujud dari rasa bangganya. Menuliskan nama marga di belakang nama juga memang merupakan salah satu cara yang sangat tepat untuk memelihara eksistensi marga agar tidak hilang ditelan bumi. Nama marga atau nama keluarga memang sangat serasi dengan nama diri jika dipadukan menjadi satu kesatuan dalam sebuah identitas seseorang dan cara ini lumrah dipraktekkan di seluruh dunia.

Nah, menurut Bapak Basyral Hamidi Harahap bahwa marga-marga Mandailing cukup banyak namun beberapa diantaranya tidak pernah terdengar lagi keberadaanya seperti marga Babiat, Dabuar, Baumi, dan lain-lain. Marga-marga Mandailing yang populer sekarang ini berjumlah 13 marga. Dari yang 13 marga itu pun beberapa diantaranya sudah jarang terdengar kepermukaan karena mungkin komunitasnya lebih sedikit seperti marga Lintang, Mardia. Maka timbul pertanyaan, mengapa marga itu tidak pernah terdengar lagi keberadaannya? Mengapa marga itu jarang terdengar? Mungkin jawaban sederhananya karena tidak dipelihara. Setujukah Anda atas jawaban tadi? Jika Anda setuju dengan jawaban karena tidak dipelihara, lantas itu salah siapa? Memang, penduduk yang berasal dari Mandailing Natal sekarang ini sudah sangat banyak yang tidak bermarga lagi pada ijazah…. mengapa bisa begitu ya?

Nah, salah satu momen yang sangat tepat untuk mengabadikan wujud dari rasa bangga terhadap marga ini adalah ketika seseorang masuk sekolah TK/SD atau ketika membuat akta lahir. Jika marga seseorang itu tertera pada momen itu maka dapat dipastikan bahwa identitas resmi yang bersangkutan untuk selamanya adalah identitas yang terdaftar/tertulis pada waktu itu pula. Oleh karena itu, bagi yang merasa punya marga dan ia bangga memilikinya, abadikanlah marga yang Anda banggakan itu saat mendaftarkan anak/ anggota keluarga Anda ketika si anak hendak masuk sekolah (untuk orang tua/saudara yang punya anak/adik)…. Kan ngitung-ngitung Anda ikut peduli/berpartisipasi melestarikan identitas budaya Mandailing yang mulai terkubur.

Begitupun, ini hanyalah pemikiran yang sangat sederhana, bagi yang tidak berkenan atau tidak merasa bangga memiliki marga, atau memiliki marga dan punya cara lain yang lebih mutakhir, ataupun berada di daerah yang dilarang menunjukkan identitas seperti itu, ya abaikan saja….